Rabu, 23 Februari 2011

Kenapa Harus Susu Formula?

Kenapa Harus Susu Formula? (Bahaya Susu Sapi)
Posted by silvirf on Jan 25, 2011 in ASI-Menyusui, MamaCerdas | 0 comments

Yang kita tahu selama ini, susu sapi itu baik & banyak manfaatnya. Tapi benarkah?
Anak-anak wajib minum susu sapi, apalagi sedang dalam masa pertumbuhan. itu kata siapa????
Iklan/ promosi produk susu di media cetak maupun elektronik, memang sungguh sangat luar biasa, membuat kita benar-benar terpengaruh dengan apa yang disampaikan iklan tersebut.

Seingat saya, saya (dulu) dan 3 saudara saya, tidak menghonsumsi susu formula, beranjak besar pun jarang sekali mengkonsumsi susu sapi. Tapi ahamdulillah kami tetap sehat dan lumayan pintar2 ko, hehe…

Begitu berbeda dengan sekarang, susu formula (susu sapi) dirasa begitu sangat penting untuk dikonsumsi, serasa menjadi wajib hukumnya untuk minum susu. Seolah-olah zat-zat penting (kalsium, vitamin, dll) hanya terdapat dalam susu. Padahal dalam makanan yang kita termui sehari-hari juga ada ko, zat-zat penting tersebut.

Kadang suka sedih juga (kasian sebenarnya), para bayi yang baru lahir diberikan susu sapi, padahal jelas-jelas… susu sapi ya untuk sapi. Untuk manusia mah hanya ASI (Air Susu Ibu) yang terbaik.

Berikut resensi dari buku The Miracle of Enzym karangan Prof Dr Hiromi Shinya ( dari catatan Dahlan Iskan, sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009)

Susu Sapi Bukan untuk Manusiasusu formula (susu sapi)

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?
“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang “jelek”: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak “lomba lari” oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi “modal” oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam “lumbung enzim-induk” . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari “lumbung”-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan “jelek” itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan “pengobatan” seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan “pengobatan” alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah.

Benarkah Susu Bergizi Sekaligus Berbahaya?

Benarkah Susu Bergizi Sekaligus Berbahaya?
20 Juni 2009 faridq26 Tinggalkan komentar Go to comments

clip_image002Ada sebuah posting dari salah satu situs komunitas yang bertemakan tentang Rasionalisasi Susu. Pembahasannya cukup menarik (menurut saya). Dalam topik tersebut dibahas pro dan kontra susu modern yang diproduksi saat ini. Berikut saya kutipkan beberapa point pentingnya (maaf, beberapa kalimat telah saya edit, diantaranya menghindari pengulangan kalimat, kalimat-kalimat yang tidak penting, juga beberapa kalimat yang tidak rasional, untuk lebih lengkapnya dapat anda lihat di situs www.forumsains.com untuk topik RASIONALISASI SUSU)

___________________________________________________________

Silahkan baca dari banyak sumber, terutama hasil penelitian yang DIBUNGKAM karena kepentingan industri dan ekonomi. Ada 2 text book yang bisa dicari (bukan di Indonesia) yang bisa menjelaskan mengenai fenomena anti susu.
- Health War, tulisan Phillip Day dan
- Optimal Nutrition dari Thomas Levy PhD
dengan subjudul : Milk: The Good food Made Toxic

Rasionalisasinya:
1. Cara sapi dibesarkan pada era ini tidak sama dengan jaman dulu.
Jadi susu tinggallah legenda dan mitos. Masalah terbesar terletak pada sapi yang tadinya herbivora memamah biak diganti menjadi kanibal oleh Tuhan barunya : manusia. Dengan mengkonsumsi MBM (meat bone meal – sisa tubuh dan jeroan sapi-sapi yang sudah dipotong yang kemudian dijadikan makanan sapi generasi berikutnya) sehingga sapi menjadi lebih cepat tumbuh dan besar, padahal ini cikal bakal terbentuknya prion, protein asing pencetus MAD COW.

2. Dengan keserakahan yang sama sapi ditambah lagi siksaannya dengan percepatan tumbuh melalui BGH, Bovine Growth Hormone. (ups.. untuk yang ini no comment, saya sendiri tidak ngerti bahan apa ini)

3. Adalah benar bahwa susu makanan cair pertama yang dikenal manusia. Tapi bukan susu sapi, melainkan ASI. Casein, protein susu sapi tidak sama dengan protein ASI. Casein sapi 400x lebih tinggi, tapi bukan berarti baik (biasa…! orang kan gak mau rugi, dikira yang lebih tinggi pasti lebih baik) tapi justru tidak cocok dengan pencernaan anak manusia. Karena itu bayi yang diberi susu sapi, pencernaannya sering terganggu bahkan kotorannya menjadi keras. Dengan tumbuhnya gigi pada usia 6 bulan, ini menjadi pertanda perubahan makanan dari cair menjadi padat. Makhluk hidup mamalia yang masih mengkonsumsi susu begitu sudah jalan dan masa penyapihan cuma orang. Mengapa? Milk is the most political food (tulis Philip Day). bukan cuma itu. Dorongan minum susu lebih cenderung sebagai commercially motivated factor (ini juga kutipannya, bukan saya). Terbukti dengan kampanye anti susu formula bagi bayi ternyata tidak menyurutkan genderang perang produsen susu sapi. Mereka melancarkan kampanye minum susu pada…. ibu hamil… Ini jelas menggelikan. Hanya orang bodoh yang bisa berpikir bahwa seakan-akan dengan minum susu ‘bisa ngeluarin susu juga’. Sama seperti (maaf) saya makan duren maka kotoran saya keluarnya duren lagi….

4. Tidak benar bahwa susu mencegah keropos tulang. Negara yang penduduknya paling banyak minum susu justru terbukti mempunyai nilai keropos tulang paling tinggi. Keropos tulang tidak semata-mata karena defisiensi calcium, itu pun bukan kalsium susu melainkan banyak faktor : dari mineral lain (seperti magnesium) sampai bahan organik makanan bahkan Pro Vitamin D3 dari matahari. Jadi keropos tulang lebih banyak berhubungan dengan minimnya cahaya matahari pagi yang dikonsumsi oleh seseorang. Ini juga masalah commercially motivated factor dimana orang asia selalu menjadi yang terjajah. Bangsa berwarna mempunyai lindungan terhadap paparan negatif ultra violet karena kita punya kelir. Melanosit yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan bahan yang mencegah kanker kulit. Tapi apa yang terjadi? konsep cantik diubah oleh (maaf) penduduk yang berkulit putih, bahwa kulit putih = cantik. Ini pembodohan gila-gilaan. Akibatnya keropos tulang dan kanker kulit malah terjadi dengan pemutihan kulit manusia berwarna.

5. Ini yang lebih parah : “kegilaan” konsumen dengan hal-hal berbau “mengandung kalsium tinggi” justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar. Let[']s say, misalkan kita masukkan kalsium sejumlah 100, tapi bila tubuh hanya mampu menyerap 5 untuk konsumsi tulang dll, maka 95-nya kemana? Jelas tidak mungkin terbuang begitu saja. Kalsium tidak larut dalam air. Maka kalsium ini akan mengendap di seluruh dinding pembuluh darah arteri, yang paling mengerikan adalah kalsifikasi atau aterosklerosis (pengkakuan) dinding pembuluh darah jantung koroner. Jadi, hipertensi terjadi lebih muda begitu pula penyakit jantung koroner. Bayangkan bila sejak balita hingga usia lanjut manusia ‘dicekokin’ susu yang tidak jelas fungsinya itu.

6. Pasteurisasi. Ini juga masalah besar. Dengan beberapa teknik pasteurisasi, maka manusia justru merusak nilai gizi (destructing the nutritional value) dari susu. Bisa disimak dengan jauh lebih komprehensif pada bukunya Thomas Levy, peneliti terbesar abad ini untuk masalah makanan dan vitamin C setelah Linus Pauling.

Minum Susu Terlalu Banyak Menyebabkan Osteoporosis.

Minum Susu Terlalu Banyak Menyebabkan Osteoporosis
Satu miskonsepsi umum yang terbesar mengenai susu adalah bahwa susu membantu mncegh osteoporosis. Oleh karena jumlah kalsium dalam tubuh kita berkurang seiring dengan usia, kita diberitahu untuk minum susu yang banyak untuk mencegah osteoporosis. Namun ini adalah suatu kesalahan besar. Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis.

Pada umumnya, dipercaya bahwa kalsium dalam susu lebih mudah diserap daripada kalsium dalam makanan-makanan lain seperti ikan kecil, tetapi dalam hal ini tidak sepenuhnya benar.

Kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Namun, saat minum susu, konsentrasi kalium dalam darah anda tiba-tiba meningkat. Walaupun sepintas lalu hal ini terlihat seperti banyak kalsium telah terserap, peningkatan peningkatan jumlah kalsium dalam darah ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk meningkatkan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, jika anda mencoba untuk minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium , hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah kalsium dalam tubuh anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu besar-Amerika, Swedia, Denmark, dan Finlandia-di negara yang banyak sekali mengonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis.

Sebaliknya, ikan-ikan kecil dan rumput laut, yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang pada awalnya dianggap rendah kalsium, mengandung kalsium yang tidak terlalu cepat diserap yang meningkatkan jumlah konsentrasi kalsium dalam darah. Terlebih lagi, hampir tidak ada osteoporosis di Jepang selama masa rakyat Jepang tidak minum susu. Bahkan sekarannng, Anda tidak mendengar banyak orang menderita osteoporosis dari mereka yang tidak minum susu setiap harinya. Tubuh dapat menyerap kalsium dan mineral yang diperlukan melalui pencernaan udang kecil, ikan, dan rumput laut.

sumber : The Miracle of Enzym (Hiromi Shinya, MD)

Selasa, 22 Februari 2011

jauhkan susu dr konsumsi kita,

Minum Susu Berbahaya? (The Miracle of Enzyme)
Hari sabtu malam, saya & istri main ke tempat salah satu dokter terkenal di jakarta..
kebetulan istri saya sedang hamil, saat kami sedang sedikit berbincang-bincang saya sangat terkejut dokter itu menyebutkan bahwa SUSU itu berbahaya, jauhkan susu dr konsumsi kita, apalagi susu utk ibu hamil itu sangat tidak perlu, justru kita sedang meracuni calon bayi kita jika meminum nya.. ia menyebutkan semua jenis susu apakah itu susu utk ibu hamil, susu formula, susu sapi dsb.

Saya mencoba memberikan sanggahan dengan mengatakan bahwa yg menganjurkan minum susu itu adalah dari para dokter itu sendiri kan? (kebetulan dokter kandungan istri saya pun menganjurkan minum susu 2x sehari), lalu saya mendapatkan jawaban yg sgt mengejutkan, bahwa ada kerjasama antara para dokter & produsen susu??? separah itukah?

mohon pencerahan tmn2..

btw, setelah saya cb searching saya mendapatkan referensi berikut ini,
The Miracle of Enzyme oleh Prof Dr Hiromi Shinya

Quote:
ENYAHKAN SUSU DARI MEJAMU!!!

TIDAK ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

“Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya,” ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia?

Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan “enzim induk” yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondarmandir di antara dua negara itu...

Enterobacter Sakazakii pada susu formula

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) Prof Dr dr Sam Soeharto Sp.MK menegaskan bahwa bakteri Enterobacter Sakazakii pada susu formula yang diributkan masyarakat tidak berbahaya bagi manusia.

"Ribut-ribut soal bakteri Enterobacter Sakazakii itu hanya salah paham dari masyarakat, karena bakteri itu tidak berbahaya, sebab di dalam usus manusia sendiri juga banyak mengandung bakteri," katanya di Surabaya, Jumat.

Ia mengemukakan hal itu menanggapi hasil penelitian IPB terkait bakteri Enetrobacter Sakazakii pada susu formula yang menjadi polemik di kalangan masyarakat dan DPR RI, bahkan MA menyampaikan amar putusan untuk meminta Menkes mengumumkan hasil penelitian IPB itu.

Menurut Sam Soeharto yang ahli mikrobiologi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu, susu pun tidak ada ketentuan harus steril dari bakteri, karena bakteri dalam susu justru diperbolehkan dalam jumlah tertentu.

"Selama ini, bakteri Enterobacter Sakazakii pun tidak pernah ditemukan ada masalah dalam tubuh manusia," kata Ketua Harian Senat Akademik Universitas (SAU) Unair Surabaya itu.

Tentang kasus bayi prematur dalam jejaring internet yang mengalami infeksi dengan bakteri Enterobacter Sakazakii itu, ia menjelaskan bayi prematur itu memang sangat rentan dengan apapun.

"Kalau bayi prematur memang sangat rentan dan perlu penanganan khusus. Bukan karena bakteri Enterobacter Sakazakii. Bakteri memang ada yang ganas seperti bakteri cholera, tapi Enterobacter Sakazakii itu tidak apa-apa," katanya. (abd)