Benarkah Susu Bergizi Sekaligus Berbahaya?
20 Juni 2009 faridq26 Tinggalkan komentar Go to comments
clip_image002Ada sebuah posting dari salah satu situs komunitas yang bertemakan tentang Rasionalisasi Susu. Pembahasannya cukup menarik (menurut saya). Dalam topik tersebut dibahas pro dan kontra susu modern yang diproduksi saat ini. Berikut saya kutipkan beberapa point pentingnya (maaf, beberapa kalimat telah saya edit, diantaranya menghindari pengulangan kalimat, kalimat-kalimat yang tidak penting, juga beberapa kalimat yang tidak rasional, untuk lebih lengkapnya dapat anda lihat di situs www.forumsains.com untuk topik RASIONALISASI SUSU)
___________________________________________________________
Silahkan baca dari banyak sumber, terutama hasil penelitian yang DIBUNGKAM karena kepentingan industri dan ekonomi. Ada 2 text book yang bisa dicari (bukan di Indonesia) yang bisa menjelaskan mengenai fenomena anti susu.
- Health War, tulisan Phillip Day dan
- Optimal Nutrition dari Thomas Levy PhD
dengan subjudul : Milk: The Good food Made Toxic
Rasionalisasinya:
1. Cara sapi dibesarkan pada era ini tidak sama dengan jaman dulu.
Jadi susu tinggallah legenda dan mitos. Masalah terbesar terletak pada sapi yang tadinya herbivora memamah biak diganti menjadi kanibal oleh Tuhan barunya : manusia. Dengan mengkonsumsi MBM (meat bone meal – sisa tubuh dan jeroan sapi-sapi yang sudah dipotong yang kemudian dijadikan makanan sapi generasi berikutnya) sehingga sapi menjadi lebih cepat tumbuh dan besar, padahal ini cikal bakal terbentuknya prion, protein asing pencetus MAD COW.
2. Dengan keserakahan yang sama sapi ditambah lagi siksaannya dengan percepatan tumbuh melalui BGH, Bovine Growth Hormone. (ups.. untuk yang ini no comment, saya sendiri tidak ngerti bahan apa ini)
3. Adalah benar bahwa susu makanan cair pertama yang dikenal manusia. Tapi bukan susu sapi, melainkan ASI. Casein, protein susu sapi tidak sama dengan protein ASI. Casein sapi 400x lebih tinggi, tapi bukan berarti baik (biasa…! orang kan gak mau rugi, dikira yang lebih tinggi pasti lebih baik) tapi justru tidak cocok dengan pencernaan anak manusia. Karena itu bayi yang diberi susu sapi, pencernaannya sering terganggu bahkan kotorannya menjadi keras. Dengan tumbuhnya gigi pada usia 6 bulan, ini menjadi pertanda perubahan makanan dari cair menjadi padat. Makhluk hidup mamalia yang masih mengkonsumsi susu begitu sudah jalan dan masa penyapihan cuma orang. Mengapa? Milk is the most political food (tulis Philip Day). bukan cuma itu. Dorongan minum susu lebih cenderung sebagai commercially motivated factor (ini juga kutipannya, bukan saya). Terbukti dengan kampanye anti susu formula bagi bayi ternyata tidak menyurutkan genderang perang produsen susu sapi. Mereka melancarkan kampanye minum susu pada…. ibu hamil… Ini jelas menggelikan. Hanya orang bodoh yang bisa berpikir bahwa seakan-akan dengan minum susu ‘bisa ngeluarin susu juga’. Sama seperti (maaf) saya makan duren maka kotoran saya keluarnya duren lagi….
4. Tidak benar bahwa susu mencegah keropos tulang. Negara yang penduduknya paling banyak minum susu justru terbukti mempunyai nilai keropos tulang paling tinggi. Keropos tulang tidak semata-mata karena defisiensi calcium, itu pun bukan kalsium susu melainkan banyak faktor : dari mineral lain (seperti magnesium) sampai bahan organik makanan bahkan Pro Vitamin D3 dari matahari. Jadi keropos tulang lebih banyak berhubungan dengan minimnya cahaya matahari pagi yang dikonsumsi oleh seseorang. Ini juga masalah commercially motivated factor dimana orang asia selalu menjadi yang terjajah. Bangsa berwarna mempunyai lindungan terhadap paparan negatif ultra violet karena kita punya kelir. Melanosit yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan bahan yang mencegah kanker kulit. Tapi apa yang terjadi? konsep cantik diubah oleh (maaf) penduduk yang berkulit putih, bahwa kulit putih = cantik. Ini pembodohan gila-gilaan. Akibatnya keropos tulang dan kanker kulit malah terjadi dengan pemutihan kulit manusia berwarna.
5. Ini yang lebih parah : “kegilaan” konsumen dengan hal-hal berbau “mengandung kalsium tinggi” justru menimbulkan masalah yang jauh lebih besar. Let[']s say, misalkan kita masukkan kalsium sejumlah 100, tapi bila tubuh hanya mampu menyerap 5 untuk konsumsi tulang dll, maka 95-nya kemana? Jelas tidak mungkin terbuang begitu saja. Kalsium tidak larut dalam air. Maka kalsium ini akan mengendap di seluruh dinding pembuluh darah arteri, yang paling mengerikan adalah kalsifikasi atau aterosklerosis (pengkakuan) dinding pembuluh darah jantung koroner. Jadi, hipertensi terjadi lebih muda begitu pula penyakit jantung koroner. Bayangkan bila sejak balita hingga usia lanjut manusia ‘dicekokin’ susu yang tidak jelas fungsinya itu.
6. Pasteurisasi. Ini juga masalah besar. Dengan beberapa teknik pasteurisasi, maka manusia justru merusak nilai gizi (destructing the nutritional value) dari susu. Bisa disimak dengan jauh lebih komprehensif pada bukunya Thomas Levy, peneliti terbesar abad ini untuk masalah makanan dan vitamin C setelah Linus Pauling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar